Your Ad Here

Bergelantungan di Ketinggian 12 Meter

Beijing - Penduduk Guangzhou, China dikejutkan oleh insiden seorang balita yang bergelantungan di ketinggian 12 meter pada sebuah apartemen.

Bawa Sabu Di Bui

Bangkok - Seorang wanita Malaysia ditahan atas tuduhan penyelundupan narkoba setelah kedapatan membawa 4,8 kilogram sabu di bandara Bangkok, Thailand.

Suap Seks

Jakarta Gratifikasi atau suap seks bagi pejabat negara diatur tegas di Singapura.

Kondisi PNS Kritis

JAYAPURA — Kondisi PNS Kodam XVII Cendrawasih, Arwan, yang ditembak orang tak dikenal, hingga pagi ini masih kritis. Sebelumnya, Arwan diberitakan tewas.

Senpi Rakitan

Jakarta - Senjata api rakitan di kawasan Cipacing, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dijual ke beberapa jaringan perampok bersenjata api.

Saturday, March 2, 2019

Ilmuawan Muslim Temukan Teori Evolusi 1.000 Tahun Sebelum Darwin



Teori evolusi yang dicetuskan ilmuwan asal Inggris, Charles Darwin, adalah salah satu fondasi dasar ilmu pengetahuan modern. Namun, ternyata teori evolusi Darwin juga memiliki leluhur di khazanah ilmu pengetahuan dunia Islam.

Gagasan yang diajukan Darwin merevolusi pemahaman kita tentang dunia, bahwa makhluk hidup berubah dari waktu ke waktu dalam mekanisme yang disebut seleksi alam.

Melalui bukunya yang terbit tahun 1859, On the Origin of Species, Darwin mendefinisikan evolusi sebagai 'proses munculnya variasi keturunan'.

Darwin merujuk pada ragam spesies dari satu leluhur yang sama.

Sekitar satu milenium sebelum Charles Darwin, seorang filsuf Muslim yang hidup di Irak, al-Jahiz, telah menulis buku tentang proses evolusi binatang.

Seleksi alamiah

Al-Jahiz menyebut proses itu sebagai sebuah proses natural.

Nama asli filsuf itu sebenarnya adalah Abu Usman Amr Bahr Alkanani al-Bisri. Namun sejarah mencatatnya sebagai al-Jahiz.

Nama harifiah itu berarti seseorang dengan bola mata yang nyaris copot. Itu bukanlah sebutan yang paling bersahabat untuk memanggil seseorang.

Meski begitu ketenaran al-Jahiz terus hidup dalam bukunya yang berpengaruh, Kitab al-Hayawan (Buku tentang Binatang).

Al-Jahiz lahir tahun 776 Masehi di kota Basra, Iraq bagian selatan. Saat itu, gerakan Mutazilah yang mengutamakan akal ketimbang tradisi tengah berkembang di Basra.

Ketika al-Jahiz lahir, Basra berada di bawah kepemimpinan khalifah Abbasid. Kala itu, karya ilmiah berbahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Polemik tentang agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat yang terjadi pada era tersebut lantas membentuk pola pikir al-Jahiz dan belakangan membantunya mengembangkan gagasan ilmiah.

Kertas yang saat itu diperkenalkan saudagar Cina ke publik Irak turut menggenjot penyebaran gagasan. Al-Jahiz muda pun kemudian mulai menulis beragam topik.

Ketertarikan al-Jahiz jatuh pada beberapa bidang, dari ilmu alam, geografi, filsafat, bahasa Arab, hingga sastra. Ia diyakini telah menulis 200 buku selama hidupnya, tapi hanya satu pertiga di antaranya yang kini dapat kita baca.

Charles Darwin tahun 1882 di Westminster Abbey
Buku tentang binatang

Bukunya yang paling terkenal ini dirancang sebagai ensiklopedia yang memperkenalkan 350 jenis binatang.

Melalui buku ini, al-Jahiz mengajukan gagasan yang sangat mirip dengan teori evolusi milik Darwin.

"Binatang bergelut untuk tetap bertahan hidup, menghindari pemangsa, dan untuk berkembang biak," tulis al-Jahiz.

"Faktor alam mempengaruhi organisme mengembangkan karakteristik baru untuk bertahan hidup. Faktor itu mengubah mereka menjadi spesies baru," lanjutnya.

Al-Jahiz menjelaskan pula dalam bukunya, "Binatang yang berhasil berkembang biak bisa menurunkan karakter itu kepada penerusnya."

Menurut al-Jahiz, setiap mahkluk hidup di dunia berada dalam pergulatan terus-menerus untuk bertahan hidup. Selama itu pula, selalu ada spesies yang lebih kuat dibandingkan yang lain.

Sebuah majalah di Prancis menerbitkan karikatur Darwin serta menyebut bahwa kera dan manusia memiliki leluhur yang sama.
Demi bertahan hidup, binatang harus memiliki jiwa kompetitif untuk mendapatkan makanan, mencegah dirinya dimangsa, dan aktif bereproduksi.

Keharusan tersebut secara alami mengubah satu spesies dari satu generasi ke generasi.

Gagasan Al-Jahiz mempengaruhi pemikir Muslim lain yang hidup setelah eranya. Karya al-Jahiz dikonsumsi oleh al-Farabi, al-Arabi, al-Biruni, dan Ibn Khaldun.

Melalui beberapa buku yang diterbitkan tahun 1930, bapak spiritual Pakistan, Muhammad Iqbal, yang dikenal luas sebagai Allama Iqbal, menilik peran al-Jahiz bagi masyarakat.

Iqbal menulis, "al-Jahiz adalah orang yang menyebut bahwa evolusi yang dialami binatang disebabkan migrasi dan pengaruh lingkungan."

TeoriMohammed

Kontribusi dunia Islam terhadap teori evolusi bukanlah sesuatu yang tak diketahui para pemikir Eropa abad ke-19. Faktanya, ilmuwan seangkatan Darwin, William Draper, pernah berbicara tentang teori evolusi Muhammed tahun 1878.

Bagaimanapun, belum ada bukti bahwa Darwin familiar dengan karya al-Jahiz. Tak ada pula yang mengetahui apakah Darwin memahami bahasa Arab.

variasi paruh buruh ketika mengamati perbedaan spesies kutilang di Kepulauan Galapagos.
Penyelidik alam asal Inggris itu berhak menerima reputasi sebagai ilmuwan yang menghabiskan waktu bertahun-tahub menjelah dan meneliti alam.

Darwin juga layak diakui sebagai penemu teori yang belum pernah ada sebelumnya, yang rincian dan kejelasannya mengubah cara kita memandang dunia.

Namun wartawan bidang ilmu pengetahuan, Ehsan Masood, yang membuat serial dokumenter untuk Radio BBC berjudul Islam and Science, menyebut kita harus mengingat orang-orang yang juga berkontribusi pada gagasan evolusi.

Kreasionisme
Massod berkata, teori kreasionisme yang menentang gagasan evolusi tidak muncul pada abad ke-9 di Irak, ketika Baghdad dan Basra merupakan pusat ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam.

"Ilmuwan tidak menghabiskan waktu berjam-jam menguji kitab-kitab wahyu dan membandingkannya dengan pengetahuan empiris tentang alam," tulis Massod dalam koran Inggris, The Guardian.

"Sebaliknya, ilmuwan keluar rumah dan berusaha menemukan hal-hal itu dengan mata dan tangan mereka sendiri," lanjut Massod.

Pada akhirnya, pencarian ilmu pengetahuanlah yang membawa al-Jahiz kepada kematiannya sendiri.

Ada suatu cerita bahwa saat berusia 92 tahun, ia berusaha meraih buku di atas lemari. Namun lemari itu justru jatuh menimpa al-Jahiz. Dan ketika itu pulalah, kehidupan filsuf Muslim itu berakhir.

Sumber : News.detik.com

Cawapres No2 Jaman Milenial Gini Cari Kerja, Ciptakan Dong


Majalengka - Cawapres Sandiaga Uno menemui para milenial di Majalengka, Jawa Barat. Sandiaga menekankan peran mileniel menciptakan lapangan kerja, bukan mencari kerja.

"Milenials itu harus menjadi solusi membantu perekonomian Indonesia yang sedang tidak baik karena minimnya penciptaan dan penyediaan lapangan kerja. Milenials itu menciptakan lapangan kerja, jangan cari kerja," ujar Sandiaga dikutip dari keterangan tertulis Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Majalengka, Jabar, Sabtu (2/3/2019).

Pernyataan Sandiaga ini disampaikan saat dialog bersama anak muda Majalengka soal 'Penciptaan Lapangan Kerja Gerakan Millenial Indonesia'.

Menurut Sandiaga, Indonesia memiliki keunggulan karena memiiki bonus demografi di tahun 2020. Bila tidak dimanfaatkan, Indonesia sambung Sandiaga akan menjadi penonton bukan pemain.

"Saya merasakan bagaimana ketika di-PHK dan tidak punya pekerjaan sama sekali saat krisis tahun 1998. Tapi dengan kerja keras dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Ahamdulillah yang semula punya tiga karyawan, berkembang menjadi 30 ribu karyawan," tutur Sandiaga.

Dalam pertemuan, Sandiaga juga sempat diberikan kalung miniatur genteng, yang menjadi produk andalan daerah tersebut.

Kepada milenial, Sandiaga berpesan jangan jadi penonton tapi pemain. Milenial ditegaskan Sandiaga punya peran penting dalam menggerakan ekonomi Indonesia.


Sumber : News.detik.com

Friday, March 1, 2019

Cawapres No 2 Kyai Ma'ruf Kenapa Bergantung Dengan Beras?


Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin berdiskusi soal ketahanan pangan bersama para ulama kabupaten Kuningan di Hotel Prima Kuningan, Jawa Barat, Selasa (26/2). Ma'ruf berjanji bakal mengupayakan pengadaan pangan lebih baik.

"Soal pangan di negara kita ke depan bisa diupayakan lebih baik, karena jenisnya banyak tidak hanya nasi saja yang jadi makanan pokok," kata Ma'ruf.

Ketum MUI itu menyebut Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam. Dia menyoroti masyarakat sangat bergantung kepada beras sebagai panganan pokok. Padahal masih banyak sumber lain seperti padi, singkong, dan sagu.

"Yang makan sagu paling hanya di Indonesia timur. Mayoritas cuma makan nasi, sayang sekali loh dengan limpahan pangan kita," katanya.

Ma'ruf ingin ada perbaikan di sektor-sektor pertanian. Dia berharap akan pembinaan terhadap petani supaya kualitas pangan meningkat.

"Walau ada singkong, tetapi kadang kualitasnya kurang bagus, petani kita perlu dibina supaya hasil pertaniannya juga bagus," ucapnya.

Pertemuan ulama ini mengawali hari kedua safari politik Ma'ruf di Jawa Barat. Terlihat Ma'ruf didampingi dewan pengarah Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Agung Laksono. Serta para ulama dari berbagai wilayah di Kuningan, Jawa Barat. 

Sumber : Merdeka.com