Your Ad Here

Bergelantungan di Ketinggian 12 Meter

Beijing - Penduduk Guangzhou, China dikejutkan oleh insiden seorang balita yang bergelantungan di ketinggian 12 meter pada sebuah apartemen.

Bawa Sabu Di Bui

Bangkok - Seorang wanita Malaysia ditahan atas tuduhan penyelundupan narkoba setelah kedapatan membawa 4,8 kilogram sabu di bandara Bangkok, Thailand.

Suap Seks

Jakarta Gratifikasi atau suap seks bagi pejabat negara diatur tegas di Singapura.

Kondisi PNS Kritis

JAYAPURA — Kondisi PNS Kodam XVII Cendrawasih, Arwan, yang ditembak orang tak dikenal, hingga pagi ini masih kritis. Sebelumnya, Arwan diberitakan tewas.

Senpi Rakitan

Jakarta - Senjata api rakitan di kawasan Cipacing, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dijual ke beberapa jaringan perampok bersenjata api.

Tuesday, October 2, 2012

Demam Berdarah Mulai Mengancam Blora

Demam Berdarah Mulai Mengancam Blora

BLORA - Menjelang musim pancaroba penyakit demam berdarah (DB) mulai mengancam warga Blora. Air yang menggenang di tempat yang tidak bersih memicu munculnya jentik nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus dengue penyebab demam berdarah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora, Henny Indriyanti melalui Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2PLP), Lilik Hernanto, menyatakan penyakit DB bisa saja muncul setiap saat. Tidak peduli saat musim hujan, pancaroba maupun musim kemarau.

‘’Sepanjang ada genangan air di wadah atau tempat yang kotor, di situlah sangat mungkin muncul jentik nyamuk Aedes Aegypti,’’ ujarnya, Rabu (3/10).

Dia mengungkapkan kasus DB di Blora terakhir menimpa Tiara, bayi berusia sembilan bulan. Tiara yang beralamat di Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora itu meninggal pada 22 September 2012 karena menderita penyakit DB.

Lilik Hernanto, mengungkapkan tahun ini mulai Januari hingga awal Oktober, jumlah kasus DB di Blora sebanyak 246 kasus. Dari jumlah tersebut empat orang penderita DB meninggal dunia. ‘’Terakhir yang meninggal adalah Tiara,’’ tandasnya.

Menyikapi mulai munculnya penyakit DB, Lilik Hernanto kembali mengingatkan warga untuk waspada. ‘’Kalau ada anggota keluarga yang mengalami panas tiga hari segera bawa ke dokter atau tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit,’’ katanya.

Dia juga meminta masyarakat untuk kembali mengintensipkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni dengan melakukan gerakan 3-M; menutup, menguras dan mengubur, wadah tempat perkembangbiakan nyamuk. ‘’Saat musim kemarau karena jarang air biasanya orang jadi eman menguras bak air. Perilaku seperti itu harus dihindari,’’ ujarnya.

Lilik menyatakan sementara ini yang dilakukan Dinas Kesehatan untuk pencegahan DB adalah dengan melakukan fogging atau pengasapan di wilayah tempat terjadinya kasus DB. Selain itu juga fogging selektif pada desa-desa endemis DB.

Sumber : suaramerdeka.com

Polisi Buru Tiga Pencuri Kerupuk

Polisi Buru Tiga Pencuri Kerupuk

SEMARANG - Tiga pelaku pencurian kerupuk di salah satu kios, di Kompleks Pasar Suryo Kusumo, Sidodrajad, Pedurungan, Selasa (2/10) pagi, masih dalam pengejaran pihak kepolisian. Adapun satu pelaku lain berhasil digelandang ke Mapolsek Pedurungan, setelah para pedagang beramai-ramai melakukan penangkapan.

Pelaku yang diketahui bernama Doni Indriyana (24), warga Jalan Barito Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, tak dapat mengelak karena ditangannya masih ditemukan 2 bungkus kerupuk hasil curiannya itu.

Menurut pemilik kios Tri Endah Sukapti (50), pencurian itu diketahui terjadi sekitar pukul 02.30. Saat itu, dia yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian, mendapat kabar dari salah seorang warga jika kiosnya telah menjadi korban pencurian.

"Dengar kabar itu, saya langsung lari ke kios dan melakukan pengecekan. Dan ternyata benar, kios saya telah dibobol pencuri, kunci gembong pintu belakang kios rusak dijebol," ungkapnya saat berada di Mapolsek Pedurungan, Selasa (2/10).

Pada waktu bersamaan, lanjut dia, warga di sekitar lokasi juga masih melakukan pengejaran, hingga salah satu dari pelaku yang berjumlah empat orang berhasil ditangkap dan diserahkan ke kantor polisi tersebut. "Polisi datang terus pelaku itu dibawa, saya juga ikut ke kantor polisi untuk melakukan laporan resmi pencurian yang terjadi di kios saya," ujarnya.

Tri membeberkan, selain 2 bungkus kerupuk, beberapa barang dagangan yang berada di dalam kiosnya itu juga ikut dibawa kabur para pelaku. Di antaranya 24 bungkus mi kering, 4 bungkus kerupuk udang, 2 bungkus bihun ukuran besar, 7 bungkus ukuran kecil bihun jagung serta 4 bungkus kerupuk cabai rawit. "Kerugian saya perkirakan sekitar Rp 262 ribu," terangnya.

Kapolsek Pedurungan Kompol Yudhi Arto Wiyono mengatakan, pelaku yang tertangkap masih diminta keterangan untuk mengarah ke pengungkapan serta penangkapan tiga pelaku lain. "kami masih melakukan penyidikan dan ketiga pelaku yang berhasil kabur masih terus kami kejar," tandasnya.

Sumber : suaramerdeka.com

Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada Ancam Sulteng

Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada Ancam Sulteng

YOGYAKARTA - Produksi lada di Sulawesi Tenggara (Sulteng) terus menurun dari tahun ke tahun akibat gangguan hama dan penyakit, terutama penyakit busuk pangkal batang lada yang disebabkan oleh phytophthora capsici.

Luas serangan p capsici pada lada tahun 2005 mencapai 67% dibanding organisme lainnya, sedangkan besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit itu pada awal tahun 2006 sebesar Rp 4,9 milyar dan akhir tahun 2007 meningkat menjadi Rp 19,5 milyar.

''Pergeseran cuaca yang tidak menentu diduga kuat mendukung terjadinya epidemi penyakit busuk pangkal batang lada di berbagai daerah di sana,'' kata La Ode Santiaji Bande pada ujian terbuka program doktor Fakultas Pertanian UGM, di auditorium Fakultas Pertanian UGM.

Dia menambahkan, model perkembangan penyakit busuk pangkal batang lada bervariasi pada berbagai kondisi agroekosistem lada. Berdasarkan kondisi agroekosistem pertanaman lada, intensitas penyakit busuk pangkal batang lada tertinggi terdapat di Kabupaten Konawe, dan laju perkembangan penyakit tertinggi terdapat pada pertanaman lada yang gulmanya sedikit. ''Perkembangan penyakit ini biasanya didukung oleh patogen yang virulen dan lingkungan yang sesuai,'' urainya.

Dijelaskan bahwa unsur cuaca yang secara langsung menyebabkan peningkatan laju epidemik penyakit busuk pangkal batang lada pada tiap daerah bervariasi dan paling dominan adalah curah hujan.

Peningkatan laju epidemik penyakit di Kabupaten Konawe Selatan disebabkan oleh peningkatan curah hujan dan lengas tanah, di Kabupaten Konawe oleh suhu udara dan curah hujan, sedangkan di Kabupaten Kolaka oleh suhu udara, jumlah hari hujan, dan curah hujan.

Dari hasil penelitiannya tersebut, Dia berharap agar strategi pengendalian penyakit busuk pangkal batang lada di Sulteng dimulai dari perbaikan kultur teknis yang dapat menghambat perkembangan penyakit itu, seperti penggunaan bibit yang sehat, pembuatan saluran drainase, penanaman tanaman penutup tanah, penyiapan terbatas hanya di bawah tajuk tanaman lada, dan pemupukan yang berimbang.

''Taktik pengendalian penyakit busuk pangkal batang lada tiap daerah berbeda, antara lain dengan melihat agihan, pola perkembangan penyakit, gatra lingkungan serta inokulum pathogen,'' papar dosen Universitas Haluoleo itu.

Sumber : suaramerdeka.com

Inspektorat Sleman Temukan 26 Kasus Kerugian Negara

Inspektorat Sleman Temukan 26 Kasus Kerugian Negara

SLEMAN - Hasil pengawasan Inspektorat Kabupaten Sleman menyebutkan, ada 26 kasus kerugian negara sepanjang tahun 2011. Dari keseluruhan kasus tersebut, nominal kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 477,1 juta.

“Temuan kasus itu sudah ditindaklanjuti, dan sebagian besar terselesaikan. Tapi masih ada kekurangan sekitar Rp 3,4 juta,” papar Inspektur Inspektorat Sleman, Suyono.

Disamping kasus yang merugikan negara, pihaknya juga menemukan 18 perkara terkait kewajiban setor kepada negara. Angka temuannya mencapai Rp 209,8 juta. Hingga saat ini, yang kembali ke kas negara baru Rp 114,7 juta. Artinya, masih ada tunggakan sebesar Rp 95 juta.

Temuan lainnya meliputi 38 kasus pelanggaran perundang-undangan, 2 kasus pelanggaran prosedur dan tata kerja, dan 4 perkara penyimpangan pelaksanaan anggaran.

“Kami juga mencatat hambatan terhadap kelancaran proyek sebanyak tiga temuan, dan hambatan terhadap pelaksanaan tugas pokok lima temuan,” ungkapnya.

Data itu masih ditambah 105 temuan kelemahan administrasi tata usaha dan akuntansi, serta lima temuan lainnya.

Menyikapi persoalan itu, Bupati mengingatkan kinerja aparat tidak terhenti pada penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Hal yang lebih penting adalah perubahan pola pikir seluruh aparat dalam melaksanakan tugas.

“Meski laporan keuangan Pemda tahun 2011 mendapat opini WTP dari BPK, tapi itu bukan jaminan indikator pemerintahan bersih. Lebih penting adalah prosesnya,” tandas Sri.

Dia menambahkan sebagai pamong praja, para PNS dituntut tidak memiliki budaya asal bapak senang. Sri juga meminta pengawasan yang dilakukan bukan hanya bertujuan mengurangi kerugian negara. Nmaun bisa memberi efek agar aparat bekerja sesuai aturan dan etika.

Sumber : suaramerdeka.com

Elektabilitas Bibit Waluyo Jeblok

Elektabilitas Bibit Waluyo Jeblok

SEMARANG - Survei terbaru menunjukkan elektabilitas Bibit Waluyo sebagai incumbent hanya di bawah 20 persen. Tapi hal itu tidak membuat Bibit gentar untuk mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur (Pilgub) 2013.

"Ora usah dowo-dowo, saya siap maju lagi!" tegas Bibit dalam seminar 'Menakar Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2013' di Hotel Santika Premiere, Selasa (2/10).

Penegasan itu disampaikan ketika ditanya oleh Sriyanto Saputro selaku moderator. Selain Bibit, beberapa kandidat calon gubernur dan wakil gubernur Jateng yang hadir juga diminta berbicara. Di antaranya Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, Ketua DPW PPP Jateng Arif Mudatsir Mandan, kader PDIP Kapendi, tokoh LSM Riyanto, Penasihat PPDI Suryokoco Adisaputro, dan mantan Dirut CMJT Sapto Marhendra.

Direktur Lembaga Pengkajian Survei Indonesia (LPSI) Jateng, M Yulianto memaparkan, survei yang dilakukannya pada delapan bulan menjelang pemungutan suara 23 Mei 2013. Dia mengatakan, semua cagub cawagub yang saat ini muncul, elektabilitasnya masih jeblok. Jika Bibit di bawah 20 persen, Rustriningsih malah tak sampai 5 persen.

Padahal popularitas keduanya terhitung tinggi yakni Bibit 65 persen, dan Rustri 63 persen. "Elektabilitas tertinggi di Jateng itu 21 persen dan itu dipegang Jokowi," katanya.

LPSI menggelar survei dengan jumlah responden 3 ribu orang yang tersebar di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Survey dengan sampel error tiga persen itu dilakukan pada 1-15 September lalu. Yuliyanto menyebut, partai politik di Jateng cenderung menimang-nimang tiga figur. Yakni Bibit Waluyo, Rustriningsih dan Hadi Prabowo.

"Kalau Elektabilitas Pak Hadi malah di bawah 1 persen. Jadi paling rasional masuk wagub dululah," ujar Yulianto.

Yuliyanto menyatakan sikap publik yang low respon dikarenakan belum adanya calon yang jelas didukung partai. Padahal di sisi lain 90 persen lebih warga telah mengetahui bahwa 2013 ada pilgub dan 607,8 persen dari mereka menyatakan pasti datang ke TPS. Dalam hal ini staf pengajar Undip itu menyayangkan sikap PDIP dan Demokrat yang belum jelas. Seharusnya, dua partai yang bisa mengusung calon sendiri ini segera mendeklarasikan diri calon gubernurnya.

Sumber : suaramerdeka.com